Astaga!HidupGaya - Berangkat dari keseimbangan alam, Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) menghelat rangkaian acara seminar, pameran dan workshop bertajuk "Sensibility Culture, People and Environment in Design".
Bertempat di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, 4-5 November, HDII berniat untuk menyadarkan para desainer interior untuk lebih meningkatkan kepekaan dalam menjalani profesinya. Sekaligus memanfaatkan potensi budaya, pengenalan lebih dalam berbagai karakter manusia untuk memaksimalkan pelayanan kepada klien, serta kesadaran terhadap lingkungan dengan pemilihan material yang ramah lingkungan dan hemat energi.
"Seiring dengan issue pemanasan global, tentu makin ke depan pemakaian energi akan dibatasi. Dari situ kami ingin mengingatkan akan penggunaan bahan yang ramah lingkungan dan hemat energi. Begitu pula dengan potensi budaya yang cukup tinggi yang kita miliki, itu akan kembali kami ingatkan," ungkap Nugroho Widhi, Ketua Panitia MUNAS XI dalam jumpa persnya di Jakarta, Selasa (4/11).
Diharapkan dengan adanya acara ini, para desainer interior makin berinovasi lewat karya-karyanya. Tak lupa dengan mengedepankan keseimbangan alam dan lingkungan serta kelestarian budaya.
Guna mendukung para desainer interior yang tergabung dalam HDII, sertifikasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk para desainer interior. Siapa sangka, hingga kini baru ada 91 desainer yang resmi memiliki sertifikasi. Padahal dengan adanya bukti sertifikasi ini, kinerja para desainer semakin diakui tak hanya di negeri sendiri tapi juga secara internasional.
"Saat ini kami memprioritaskan sertifikasi untuk para desainer. Karena sertifikasi sangat penting untuk menunjang desainer Indonesia secara kompeten di lokal maupun di internasional," kata Ibu Farida Alaydroes, Ketua Umum HDII dalam kesempatan yang sama.
Sekedar informasi, masih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa penggunaan jasa interior itu selalu identik dengan kemewahan. Padahal menurut Bp. Arjon, Ketua HDII mendatang, hal itu tidaklah demikian. "Kalau dikatakan interior itu sama dengan kemewahan, sebenarnya itu relatif. Karena interior tidak harus mewah, kami justru lebih mengutamakan fungsi ketimbang kemewahan. Jika tidak berfungsi dengan tepat maka kami anggap itu gagal," terang Bp Arjon.
Selain seminar, pameran dan workshop, HDII juga menyelenggarakan Kongres/Musyawarah Nasional (MUNAS XI), dimana seluruh desainer interior berkumpul untuk memperoleh laporan pertanggung jawaban kepengurusan tahun 2006 - 2008 yang diketahui oleh Ibu Farida Alaydroes dan serah terima kepada kepengurusan tahun 2008 - 2010, Bp Arjon, serta melakukan pemilihan Majelis, Dewan Kode Etik serta calon Ketua tahun 2010 – 2012.
Pada seminar tersebut diundang pembicara luar negeri yakni Mr Nigel Signal dari Singapura dan Mr Glenn Wing dari Hong Kong. Mereka mengupas habis tentang kepekaan dalam memilih material yang ramah lingkungan, serta perkembangan teknologi bahan yang sangat memperhatikan lingkungan dengan kemudahan daur ulang, serta tentang konsep desain interior yang peka terhadap lingkungan.
Selain itu diundang pula pembicara ahli marketing, Mr James Gwee dari Singapura, yang mengupas tentang kepekaan terhadap manusia. Ia membahas tentang bagaimana membaca berbagai karakter klien, agar para desainer lebih mudah meyakinkan klien dalam hal persetujuan desain, negosiasi maupun pendekatan yang lebih efektif. Dengan demikan akan lebih cepat dan mengena dalam penyajian desain, mencapai kesepakatan, memperoleh persetujuan dan memenuhi keinginan klien.