Astaga!HidupGaya - Tempe kedelai hitam, dawet tepung beras dan keripik singkong, mungkin hanya sekedar kudapan ringan. Namun begitu, makanan olahan tersebut merupakan hasil industri kecil yang dibuat oleh 300 ibu sortasi kedelai hitam, yang berasal dari delapan dusun di Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur.
Dibalut dalam acara "Apresiasi Program Pemberdayaan Perempuan Petani Kedelai Hitam", Sabtu (29/11) lalu, hasil penganan industri kecil tersebut justru mampu menambah penghasilan keluarga. "Melalui program pemberdayaan perempuan, Yayasan Unilever Peduli memberikan dana stimulan dan serangkaian pelatihan agar mereka segera memulai usaha kecil," ujar Maya Tamimi, Manajer Program Usaha Kecil dan Menengah Yayasan Unilever Peduli.
Hasilnya, kelompok ibu sortasi di Desa Kedungdowo sukses memasarkan keripik pisang, sementara kelompok dari Desa Pohjenggel memproduksi tas anyaman plastik sebagai produk andalan. Kelompok dari Desa Katikan, Garangan dan Gelon sudah mampu mengelola uang dengan melaksanakan aktivitas simpan pinjam, meskipun sederhana, cara ini ampuh mendorong para ibu untuk menabung.
Menanggapi kegiatan yang positif, Bupati Ngawi, Ulfa Harsono menyambut baik inisiatif tersebut. "Ini menunjukkan jika berkelompok ibu-ibu pedesaan juga bisa maju dan berkembang. Yang dulu culun dan kurang percaya diri, sekarang terlihat begitu semangat dan bergairah," ujarnya. Ulfa yang juga bertindak sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ngawi menekankan pentingnya mempertahankan keberhasilan yang selama ini sudah diraih dan berpartisipasi dalam program pemerintah melalui Posyandu.
Sejak Mei 2008 program pemberdayaan perempuan dari Yayasan Unilever Peduli telah mengadakan serangkaian pelatihan mengenai pentingnya gizi dan mengelola keuangan rumah tangga bagi para kelompok perempuan sortasi kedelai hitam Ngawi. Kelompok perempuan tersebut berasal dari Desa Kedunggowo, Pohjenggel, Ngarengan, Katikan, Gelon, Blembem, Babadan, dan Garangan.
Widiandayani, Manajer Program Padmaya, LSM lokal yang menjadi mitra Unilever mengungkapkan selain mendorong aspek bisnis, para kelompok ibu sortasi tersebut juga didorong untuk lebih percaya diri. "Misalnya dengan diskusi kelompok, presentasi sederhana, dan bagaimana mengungkapkan pendapat," kata Widi. Ia menambahkan kunci kesuksesan program ini adalah peran aktif para anggota, sehingga setiap orang memiliki peran yang sama. "Yang tadinya tidak biasa berbicara, sekarang mulai piawai berdiskusi dan mengemukakan pendapat," lanjutnya.
Maya menambahkan, program ini tidak akan berhenti sampai disini saja. Karena Unilever telah mempersiapkan rangkaian program lanjutan, agar para ibu bisa mandiri dan menjadi penggerak di lingkungan mereka. Sekedar informasi, Unilever telah melaksanakan program serupa di Bantul, Yogyakarta dan berencana melaksanakan program ini ke daerah binaan kedelai hitam lainnya, seperti Trenggalek dan Nganjuk.
Sejak 2001, Yayasan Unilever Peduli mulai melaksanakan program pengembangan petani kedelai hitam. Bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, Unilever mendampingi petani untuk membudidayakan kedelai hitam guna mencapai kualitas kedelai hitam yang optimal. Dalam proses paska panen, Unilever memberdayakan kelompok perempuan dalam proses sortasi. Kegiatan ini bermanfaat bagi para ibu untuk menambah pendapatan dan mempererat komunitas perempuan di lingkungan mereka.
had Gibes
had Gibes