RM Makciak, Kuliner Khas Minang

Dari deretan rumah makan khas Minang di Jakarta yang terkenal soal rasa, tersebutlah nama Rumah Makan Makciak. Ya, Rumah Makan Makciak sudah tak asing lagi ditelinga para food-lover makanan khas Sumatera Barat ini.

Nah, bagi sahabat Astaga yang berdomisili di Jakarta Selatan dan sekitarnya, yuk berpetualang kuliner masakan Padang tiada tara nikmatnya ini dijamin pasti ketagihan.

Di Jakarta, tepatnya di Kalibata City ada restoran Padang terkenal dengan aneka masakan Minang yang ajiib banget dan pastinya harga terjangkau. Disambangi di kedai miliknya, Uda Rizal yang merupakan owner dan juga sebagai chef dari rumah makan ini, dengan ramah dan penuh keakraban menerima tim Astaga berbincang santai, bagaimana beliau menceritakan asal muasal rumah makan ini berdiri dan sampai kini mampu mempertahankan cita rasanya yang khas itu. Tak salah, Makciak menjadi salah satu pilihan rumah makan khas Minang yang patut dicoba. Soal rasa, dijamin gak bakal mengecewakan.  

Sejarah Makciak

Uda Rizal tumbuh dilingkungan keluarga di Maninjau, Padang, Sumatera Barat. Urang Minang yang masih terbilang masih muda ini adalah anak paling kecil dari 13 bersaudara yang lahir ketika keponakan-keponakannya lahir terlebih dahulu. Sehingga dilingkungan keluarga, sampai kini pun, para keponakan memanggilnya dengan sebutan mamak kaciak yang berarti paman paling kecil [Mamak adalah paman dan kaciak berarti kecil – red]. Sehingga di kampung pun, nama nya hampir tak pernah disebut.

Usaha keluarga di Padang, pernah membuka usaha catering, pastry menggunakan nama Makciak. Jadi semua yang dipakai nama brand Makciak. Maka dari itu, kosa kata Makciak sudah familiar di internal keluarga dan lingkungan disana.  

Berdiri sejak tahun 2015, Uda Rizal membuka rumah makan di Kalibata City dengan rencana awal bernama Hidangan Gaya Baru yang terinspirasi nama rumah makan milik ibunda di Palembang. Namun, beliau menilai tak mempunyai ciri khas, makanya Uda Rizal dalam soal pemberian nama dikembalikan lagi menjadi Makciak dengan logo yang berbeda dengan yang lain.

Rumah Makan Padang 'kan biasanya identik rumah rangkiang atau ceranah, logo dibuat ukiran (nama Makciak) khas minang yang mempunyai filosofi bahwa ketika kita mau membuka usaha, rejeki yang didapat bukan hanya untuk diri sendiri, tapi rejeki itu juga untuk anak, keponakan, buat orang kampung, buat adat, buat negeri juga. Dan (rejeki usaha) itu harus dialokasikan kesana.

“Kaluak paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang-lenggokkan, baok manurun ka Saruaso, tanam sirieh di ureknyo. Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan, Tenggang nagari janji sakato, sarato jo adaiknyo.”

Keahlian memasak Uda Rizal, diilhami dari profesi keluarga (nenek) yang merupakan tukang masak di jaman Belanda dahulu, ibu juga tukang masak Walikota Medan yang pertama. Menikah dengan bapak dan buka rumah makan di Palembang. Sampai tahun 1973 kembali lagi ke Maninjau (Padang) dan tidak berjualan lagi. "Kehidupan disana pun mengalami pasang surut, dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Hingga mau makan saja, tak ada." cerita Uda Rizal sambil menyuguhkan kupat tahu padang.

Dikenang Uda Rizal sambil memberi motivasi, pengalaman berharga yang sangat diingat saat itu adalah memasak Salibu (padi yang tumbuh di sawah, sebulan setelah panen kemudian tumbuh padi-padi yang lama. Tumbuh dan biasanya dibiarkan saja (dibuang) dan dimakan burung. Bagian itu disangrai, ditumbuk dan dimasak menjadi bubur. Dibuat agak lembek biar menjadi banyak. Tak ada garam pun, masak pun jadi. Makan rebus nangka atau bayam tanpa garam, jadi menu keseharian keluarga saat itu, bahan yang ada dikebun.

Satu tahun mengalami seperti itu, akhirnya pindah ke daerah Lubuk Basung (kabupaten Agam, Sumatera Barat) buka usaha rumah makan dan bertahan sampai 1984 dan berangkat ke Jakarta (Cibubur) buka rumah makan lagi. Rizal pun ikut Paman di Bintaro membantu usaha disana. Dari pengalaman itu, Rizal sudah bisa masak, bisa membuat rendang diusia kelas 4 SD.

Tahun 1985 ikut orang lain di Bekasi, namun sudah membuka usaha makanan sendiri. Sampai tahun 1986 balik lagi ke Padang, karena bapak ibu yang sudah sepuh dan tidak melanjutkan usaha disana. Merawat orang tua dan menjadi tulang punggung keluarga membiayai keluarga disana.

Basic pengalaman dari kecil yang sudah menjadi tukang masak, pernah bekerja di Rumah Makan Sederhana, Bupet Mini, pernah menjadi anak angkat orang Simpang Raya, sehingga soal masakan desa (alhamdulillah) sudah khatam. Setelah menikah, tahun 2003 berhenti bekerja, dan membuka rumah makan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Namun karena istri menderita sakit liver yang cukup serius dan meminta pulang kampung ke Padang. Disana stop usaha rumah makan dan beralih usaha bisnis holtikultura (bibit tanaman) dan pembibitan ikan. Sampai istri meninggal pada tahun 2006, kemudian diajak keponakan yang baru pulang dari Jepang untuk bekerja di luar negeri dengan maksud untuk refreshing jalan-jalan ke luar negeri (eropa).

Cabang Usaha RM Makciak

Dari penuturan Uda Rizal, sudah ada 3 outlet di Kalibata City, yaitu di Tower Akasia, Ebony, dan Lotus.  2 cabang lagi berada di luar, yaitu di Pancoran dan Kemang Jakarta Selatan. Di pancoran ini sebagai pusat tempat memasak dengan pendistribusian ke 5 cabang tersebut. Saat ini, tercatat sudah merekrut total +/- 70 orang karyawan.  

Apa yang membedakan RM Makciak dengan yang lain?

Uda Rizal suka makan makanan khas mana aja. Seperti masakan Sunda, Jawa, Manado, dan lain sebagainya. Dari situ, dia melihat ada kelebihan dan kekurangan. Dan khusus dari masakan Padang, dia melihat ada kelemahan yaitu nasi yang sedikit, potongan ayam yang kecil, sambal, daun dan nangka yang gratis dibuat yang ala kadarnya (tak ada rasa). Untuk itu menjadi perhatian Uda Rizal untuk memperhitungkannya. Karena prinsip dia, orang sudah membayar itu sudah termasuk sambal, sayur, kuah.

Selain itu, ada yang membedakan dari rumah makan Makciak ini. Disini, tidak dijual jeroan, babat, usus karena menu tersebut tidak baik untuk tubuh, dan dipastikan tidak ditemui menu disini. “Saya menjual apa yang saya suka, yang tidak disuka, tidak dijual.” ujar Uda Rizal yang sangat memperhatikan kesehatan tubuh.

Di rumah makan Padang, (maaf) biasanya, ayam gulai tidak habis biasanya besoknya menjadi ayam bakar, besoknya lagi ayam goreng atau balado. Di rumah makan Makciak, uda Rizal memastikan makanan yang tidak habis itu ditemukan lagi disini. Semua itu didistribusikan ke yang membutuhkan, seperti Panti Asuhan, orang-orang pinggiran jalan, dan sebagainya.

Resep Contekan dari Makciak

Untuk menambah cita rasa masakan, Makciak tidak menggunakan penyedap rasa, vetsin, atau micin (MSG, Monosodium glutamate). MSG diganti dengan kelapa Padang (Modang) yang sedang (tidak tua, muda juga tidak). Air kelapa digunakan untuk memeras santannya, sehingga kelapa tadi atau santan tadi menjadi manis dan gurih. Ini menambah cita rasa bumbu dan rempah mempunyai rasa yang kuat.

Tips ala Makciak

Belajar dari bisnis kuliner keluarga yang ada naik turunnya usaha dan sempat bangkrut, rumah makan orangtua yang pernah gagal, menjadi motivasi Uda Rizal mengembangkan bisnis ini harus lebih baik. Bagi Rizal, jangan hanya mengandalkan modal saja, tapi harus mampu menguasai makanan (menu). Dengan menguasai (menu) makanan, menghindari makanan yang tidak produktif.

Selain kuasai makanan, juga kuasai belanja. Penyediaan bahan baku yang tepat dan efesien adalah hal yang penting bisa mengurangi resiko kecenderungan kena tipu lebih sedikit (pembelian bahan).

Terpenting, tidak boleh ‘Ngobossi’ (bos). Walaupun sudah mempercayakan kepada karyawannya, Uda Rizal tetap control dalam penyajian. Dengan maksud tetap memperhatikan kualitas penyajian kepada konsumen. Pelanggan akan beda bersikap berhadapan dengan pemilik dan karyawan. Maka dari itu, bagi Rizal hadir di kedai menjadi rutinitas keseharian dia memonitor usaha kuliner ini.

Harapan kedepan Makciak

Dengan kedai yang ada saat ini, masih sebatas mencukupi isi perut saja. Menjual makanan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Uda Rizal mempunyai rencana dan target kedepan, mempunyai rumah makan yang lebih besar, restoran dengan suasana yang nyaman dan luas. [dr/gito/Astaga]

---------------------------------------------

Kedai Mak Ciak
Kalibata City RT.09/RW.4 Rawajati, Kec. Pancoran, DKI Jakarta, DKI Jakarta 12750
Tower Akasia CL20, Tower Ebony, dan Tower Lotus.

Kedai Mak Ciak Cabang Riverside
Apartemen Pancoran Riveside, Tower 1C Jaksel.

Info dan Social Media:
Telp: 085265018650
IG: @makciak
FB: https://www.facebook.com/kadai.makciak/

makciak Rumah Makan Padang Astaga.com