Login / Register Syndicate content Feed     

Merantau, Idealisme Seorang Perantau Minang

Astaga!Layar - Setelah vakum selama 15 tahun, akhirnya perfilman Indonesia kembali menghadirkan sebuah film tentang bela diri. Yang membanggakan, film bertajuk "Merantau" ini mengangkat seni bela diri tradisional yakni Silat Harimau yang berasal dari Sumatera Barat.

Merantau, Idealisme Seorang Perantau MinangMerantau diambil dari sebuah budaya masyarakat Minang, di mana seorang anak laki-laki yang beranjak dewasa harus menjalani ritual dengan pergi merantau ke kota besar. Tujuannya tak lain untuk menemukan jati diri dan mendapatkan pengalaman yang bisa diberikan pada komunitasnya saat kembali pulang.

Pemuda itu bernama Yuda (Iko Uwais), pesilat Harimau handal, yang hendak memulai perantauannya. Ia meninggalkan sang ibu (Christine Hakim) serta Uda/Yayan (Donny Alamsyah) untuk mencari peruntungan di Jakarta.

Layaknya seorang pemuda kampung yang masih penuh dengan idealisme, Yuda menemukan fakta bahwa tidak mudah untuk tinggal di kota besar. Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung sudah dirobohkan dan untuk menghemat uang, Yuda bermalam di gorong-gorong sebuah gedung yang hendak dibangun.

Keesokan harinya, Yuda malah kecopetan dan hal itu mempertemukannya pada Astri (Sisca Jessica) yang tengah dianiaya pemilik klub Johnny (Alex Abbad). Siapa duga, pertikaian kecil dan pertemuan Yuda dengan Astri malah berujung masalah besar.

Ya, Astri kemudian menjadi korban organisasi ilegal human trafficking. Perdagangan manusia itu dipimpin seorang pria Eropa bernama Ratger (Mads Koudal) dan rekannya Lars (Laurent Buson). Karena ingin membebaskan Astri, Yuda tak punya pilihan selain melawan orang-orang yang menyerangnya.

Bagaimana cerita selanjutnya? Temukan jawabannya di 'Merantau'. Sedikit bocoran nih, di bagian akhir film cukup mengejutkan. Jadi siap-siap saja.

Secara keseluruhan, film yang disutradarai Gareth Huw Evans ini menyajikan sebuah drama berbalut aksi bela diri, disisipi sedikit bumbu humor. "Film ini tidak hanya sekedar memberikan aksi, tapi ada alasan mengapa perkelahian harus terjadi. Selain itu sebenarnya cukup sulit menyeimbangi antara pertarungan dan sedikit humor," terang sutradara asal Inggris ini.

Berangkat dari kisah Sumatera Barat, Gareth menyuguhkan pemandangan indah seperti Ngarai Sianok dalam filmnya. Tidak dipungkiri, pengambilan lanskap yang indah cukup memanjakan mata penonton. Termasuk ilustrasi musik, yang walau terkesan modern tapi menggunakan alat musik tradisional, Saluang. Tak terkecuali alunan lagu 'Tinggallah Kampuang', yang sangat dikenal orang Minang.

Dari segi aksi, Iko cukup terampil dan apik dalam memperagakan kepiawaiannya. Didukung para pemain lain, pertarungan yang terjadi terlihat indah dan sangat nyata. Jika Anda perhatikan, ada sedikit 'aksi' Jacky Chan. Tapi tenang saja, hal itu justru memicu decak kagum dan rasa terpukau.

Lalu bagaimana akting seorang Iko Uwais? Sebagai seorang pendatang baru di dunia film, Iko boleh mendapat acungan jempol. Selain benar-benar bisa silat, Iko memiliki karisma tersendiri di depan kamera. Dijamin, usai menonton filmnya, Anda mungkin akan masih terbayang-bayang bagaimana pertarungan seru yang ditampilkan Iko.

Tak salah rasanya jika Iko Uwais bisa saja menjadi seorang pemain film laga baru Indonesia. Kalau Hong Kong punya Jacky Chan dan Jet Li, Thailand punya Ong Bak, Indonesia kini juga punya bintang baru.

Sekedar kilas balik, di era 80-an perfilman tanah air memiliki sederet bintang laga yang kerap memperlihatkan kepiawaiannya dalam bela diri. Sebut saja Barry Prima, Advent Bangun, dan Lamting. Atau di era 90-an, sebuah televisi swasta tanah air pernah menyajikan sinetron berbau bela diri dengan bintang Ari Wibowo dan Marcellino Lefrandt.

Nah, bagi Anda yang gemar menyaksikan film aksi, jangan lewatkan film "Merantau" yang siap edar pada 6 Agustus 2009 di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Asal tahu saja, film ini sudah diikut sertakan dalam beberapa festival, seperti di Hong Kong Filmart bulan Maret 2009 lalu, penutup 13th Puchon International Fantastic Film Festival dan film pembuka 3rd Jogya NETPAC Asian Film Festival. Trailernya saja sempat ditayangkan di Festival Film Cannes, Mei lalu.

  • Allowed HTML tags: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
Maaf, Pertanyaan ini hanya untuk memastikan kalau Anda bukan Spambot